Rabu, 22 Mei 2013

PERANG DUNIA II DAN DAMPAKNYA BAGI KOREA (Dari Jepang Hingga Korea Dalam Sebuah Problema Politik)

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pengaruh Jepang di Cina makin luas, sehingga terjadi benturan kepentingan dengan Rusia di Manchuria. Tampaknya kemenangan atas Cina membuat Jepang yakin akan kekuatan angkatan perangnya, sehingga sangat diandalkan dalam mengejar politik luar negerinya. Pertentangan kepentingan dengan Rusia tidak hanya diusahakan untuk diselesaikan secara diplomasi, tetapi juga menggunakan kekuatan militernya. Perang Rusia-Jepang (10 Februari 1904 – 05 September 1905) adalah konflik yang sangat berdarah yang tumbuh dari persaingan antara ambisi imperialis Rusia dan Jepang di Manchuria dan Korea. Peperangan ini utamanya terjadi karena perebutan kota Port Arthur dan Jazirah Liaodong, ditambah dengan jalur rel dari pelabuhan tersebut ke Harbin.
Rusia maupun Jepang berusaha mengambil alih Korea. Akhirnya Korea menjadi sebagian wilayah Kekaisaran Jepang mulai tahun 1910 hingga tahun 1945.Penjajahan Jepang terhadap Korea berakhir dengan penyerahan Jepang kepada Blok Sekutu pada tahun 1945 pada akhir Perang Dunia II.Semenanjung Korea kemudian dibagi atas Korea Utara dan Selatan. Zaman pendudukan ini meninggalkan pertentangan yang terus-menerus antara Jepang dan kedua pihak Korea. Pada akhirnya Korea telah menjalani problema politik dan mengatasinya dan jadilah Korea sekarang menjadi salah satu negara maju khususnya di Asia Timur.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana perang Jepang-Rusia beserta dampaknya?
2.      Apa yang menyebabkan Jepang menjajah Korea?
3.      Apa yang terjadi setelah Jepang Menjajah Korea?
4.      Bagaimana dampak perang dunia II khususnya terhadap Korea?
5.      Bagaimana problema politik di Korea?

C.    Tujuan
Sesuai dengan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin di capai dalam makalah ini adalah:
1.      Memenuhi tugas mata kuliah sejarah Asia Timur.
2.      Menjelaskan dampak perang Jepang-Rusia
3.      Menjelaskan proses jepang menjajah Korea.
4.      Menjelaskan dampak yang terjadi akibat perang dunia II khususnya terhadap Korea.
5.      Menjelaskan prolema politik yang ada di Korea.

D.    Manfaat
Makalah ini semoga memiliki manfaat diantaranya :
1.      Diharapkan Makalah ini bisa memperluas pengetahuan serta wawasan kami sebagai tim penulis dan pembaca tentang sejarah Asia Timur secara umum.
2.      Melalui makalah ini kita dapat belajar dari perjalanan sejarah untuk kebaikan di masa saat ini. Juga lebih mengenal dan menghargai aspek historisitas sebuah kawasan bangsa.
3.      Mengembangkan potensi dan kreatifitas penulis agar berguna dimasa yang akan datang.



BAB II
PEMBAHASAN

1.      Perang Jepang-Rusia
Pengaruh Jepang di Cina makin luas, sehingga terjadi benturan kepentingan dengan Rusia di Manchuria. Tampaknya kemenangan atas Cina membuat Jepang yakin akan kekuatan angkatan perangnya, sehingga sangat diandalkan dalam mengejar politik luar negerinya. Pertentangan kepentingan dengan Rusia tidak hanya diusahakan untuk diselesaikan secara diplomasi, tetapi juga menggunakan kekuatan militernya. Selain itu, Jepang juga merasa kuat karena pada 1902 berhasil bersekutu dengan Inggris. Persekutaan dengan Inggris (yang diperbaharui pada 1905 dan 1911) menjadi tonggak yang penting dalam politik luar negeri Jepang untuk dunia untuk dekade berikutnya.[1]
Perang Rusia-Jepang adalah konflik yang sangat berdarah yang tumbuh dari persaingan antara ambisi imperialis Rusia dan Jepang di Manchuria dan Korea. Peperangan ini utamanya terjadi karena perebutan kota Port Arthur dan Jazirah Liaodong, ditambah dengan jalur rel dari pelabuhan tersebut ke Harbin. Perang Rusia-Jepang yang berlangsung pada (10 Februari 1904 – 05 September 1905) berakhir dengan kemenangan Jepang. Perang Rusia-Jepang terjadi akibat perbenturan kepentingan kedua negara tersebut dalam menjalankan imperialismenya. Sebab-sebab terjadinya perang sebagai berikut:
a)      Rusia dalam usahanya mendapatkan pelabuhan-pelabuhan bebas dari gangguan es (politik Air Hangat Rusia) telah berhasil menduduki Manchuria dan ingin menjadikan daerah Wladiwostok, Manchuria, Liau-tung (Port Arthur) dan Korea sebagai suatu kesatuan daerah pengaruh Rusia.
b)      Jepang yang telah muncul sebagai negara imperialis akibat kemajuan industrinya, ingin menjalankan ekspansi ke Manchuria. Dan Korea merupakan pintu gerbang ke Manchuria dan Cina Utara. Jepang tidak ingin membiarkan Korea jatuh ke tangan Rusia.
c)      Jepang ingin membalas dendam kepada Rusia yang mengambil begitu saja Port Arthur dari Jepang dalam Perang Cina – Jepang (1895).
A.    Asal Mula perang
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, berbagai negara Barat bersaingan memperebutkan pengaruh, perdagangan dan wilayah diAsia Timur sementara Jepang berjuang untuk menjadi sebuah negara modern yang besar. Lokasi Jepang mendorongnya untuk memusatkan perhatian pada Dinasti Choson Korea dan Dinasti Qing di Tiongkok utara, sehingga membuat negara itu bersaingan dengan tetangganya, Rusia. Upaya Jepang untuk menduduki Korea menyebabkan pecahnya Perang Tiongkok-Jepang.
Kekalahan yang dialami Jepang dalam perang itu menyebabkan ditandatanganinya Perjanjian Shimonoseki (17 April 1895). Dengan perjanjian itu Tiongkok melepaskan klaimnya atas Korea, dan menyerahkan Taiwan dan L├╝shunkou (sering disebut Port Arthur). Namun, tiga kekuatan Barat (Rusia, Kekaisaran Jerman dan Republik Ketiga Prancis ) melalui Intervensi Tiga Negara pada 23 April 1895 menekan Jepang untuk menyerahkan Port Arthur, dan belakangan Rusia (tahun 1898) merundingkan penyewaan pangkalan Angkatan Laut selama 25 tahun dengan Tiongkok. Sementara itu, pasukan-pasukan Rusia menduduki sebagian besar wilayah Manchuria dan Rusia maupun Jepang berusaha mengambil alih Korea.
Setelah gagal mendapatkan perjanjian yang menguntungkannya dengan Rusia, Jepang mengirimkan sebuah ultimatum pada 31 Desember 1903, memutuskan hubungan diplomatik pada 6 Februari, dan mulai menyerang dua hari kemudian. Kedua pihak mengeluarkan pernyataan perang pada 10 Februari. Di bawah hukum internasional, serangan Jepang tidak dapat dianggap sebagai serangan tersembunyi, karena ultimatum telah dikeluarkan. Namun demikian, setelah serangan Pearl Harbor, seringkali dikatakan bahwa ini adalah salah satu contoh betapa Jepang suka melakukan serangan mendadak.
Perang Rusia-Jepang berakhir dengan perjanjian Portsmouth (sebelah utara New York). Amerika bertindak sebagai mediator dalam perjanjian perdamaian tersebut. Perjanjian Portsmouth menghasilkan keputusan sebagai berikut:
1.      Jepang mendapat Port Arthur dan Sakhalin Selatan.
2.      Korea menjadi daerah mandat Jepang.
3.      Rusia akan meninggalkan Manchuria.
Dampak atau Akibat dari Perang Rusia-Jepang dapat diuraikan sebagai berikut:
1)      Jepang timbul sebagai negara besar dan negara Asia terkuat.
2)      Kepercayaan Jepang akan kekuatan sendiri bertambah besar hingga menimbulkan keinginan ekspansi yang lebih luas.
3)      Pengaruh bangsa Barat di Cina terdesak oleh pengaruh Jepang. Jepang menjadi saingan besar yang disegani oleh negara Barat, sehingga bangsa Barat menyebut Jepang sebagai “Bahaya Kuning”.
4)      Rusia tenggelam sebagai negara besar dan merosot pamornya.
5)      Rusia tidak berani lagi menjalankan ekspansi (politik Air Hangat) di Timur, dan mengarahkan emspansinya ke wilayah Balkan.
6)      Kemenangan Jepang membuka mata bangsa-bangsa Asia lainnya bahwa negara Eropa dapat dikalahkan oleh bangsa Asia. Bangsa Asia tidak lagi merasa dirinya inferior (lebih rendah) dari bangsa Eropa. Timbullah semangat bangsa Asia untuk merdeka dan mengusir penjajah dari wilayah Asia.

2.      Korea Sebagai Jajahan Jepang
Penjajahan Jepang di Korea yang mulai berlangsung pada masa akhir kerajaan Chosun telah menghancurkan kerajaan dan rakyat Korea. Penjajahan Jepang  di negara lain dan penjajahan oleh negara-negara Eropa pada umumnya didasarkan pada tujuan eksploitasi ekonomi dan sosialis. Akan tetapi, kebijakan penjajahan jepang di Korea berbeda dengan kecenderungan tujuan Jepang menjajah negara-negara lainnya. Akibat posisi geografis Semenanjung Korea yang strategis, Jepang ingin menguasai Semenanjung Korea yang pada gilirannya ingin menjadikan Semenanjung Korea  sebagai bagian wilayah Jepang, serta mmemerintah Korea secara langsung dengan cara menguasai rakyat Korea dan Memasukkan rakyat Korea dalam Struktur masyarakat Jepang.[2]
Korea menjadi sebagian wilayah Kekaisaran Jepang mulai tahun 1910 hingga tahun 1945. Keterlibatan Jepang bermula dengan Perjanjian Ganghwa tahun 1876 ketika Dinasti Joseon Korea dan meningkatnya serentetan pembunuhan Ratu Myeongseong di tangan agen-agen Jepang pada tahun 1895, lalu berpuncak dengan Perjanjian Eulsa tahun 1905 dan Perjanjian Aneksasi tahun 1910, yang kedua-duanya akhirnya dinyatakan "batal dan tidak sah" oleh kedua belah pihak (Jepang dan Korea Selatan) pada tahun 1965. Sepanjang tempo ini, meskipun Jepang membangun jaringan jalan raya dan komunikasi modern, kehidupan rakyat biasa Korea amat keras
Penjajahan Jepang terhadap Korea berakhir dengan penyerahan Jepang kepada Blok Sekutu pada tahun 1945 pada akhir Perang Dunia II.Semenanjung Korea kemudian dibagi atas Korea Utara dan Selatan. Zaman pendudukan ini meninggalkan pertentangan yang terus-menerus antara Jepang dan kedua pihak Korea.
Jepang menerapkan kebijakan pembauran di wilayah jajahan dengan cara melakukan ‘Jepangisasi’[3] terhadap kebudayaan, adat-istiadat, bahasa dan sejarah Korea; selain itu juga mengalihkan berbagai sumber ekonomi ke Jepang. Negara-negara Barat waktu itu telah memerintah negara jajahan mereka secara tidak langsung dalam bentuk pengeksporan berbagai sumberdaya lokal dan permodalan. Namun Jepang tidak cukup memiliki kemampuan untuk memerintah Korea dengan cara mengendalikan mekanisme pasar. Bentuk pemerintahan langsung menjadi tidak terhindarkan, sehingga itulah sebabnya pemerintahan penjajahan Jepang jauh lebih kejam daripada berbagai negara penjajah saat itu.
Survei pertanahan oleh Jepang di seluruh wilayah Korea yang dimulai tahun 1910, telah menyebabkan para petani Korea kehilangan tanah warisan nenek-moyang mereka dan menjadi penyewa tanah yang miskin. Sebagian petani pindah ke kota dan menjadi buruh, namun mereka diperlakukan tidak adil karena hanya memperoleh kurang dari separoh upah yang diterima oleh para pekerja Jepang. Mereka dilarang berbicara bahasa Korea dan mulai diperkenalkan sistim pendidikan gaya Jepang. Tokyo menerapkan berbagai kebijakan yang disebutnya ‘pembauran’ meskipun sesungguhnya sangat didasarkan atas asas diskriminasi. Jepang juga menempatkan aparat kepolisian di seluruh penjuru Korea dan membentuk sebuah sistim pengawasan masyarakat. Akibatnya, Semenanjung Korea seolah berubah menjadi sebuah penjara tanpa jeruji besi.
Namun dalam ketatnya kekuasaan seperti itu, berbagai kekuatan perlawanan anti-Jepang di Korea berhasil membentuk jaringan rahasia dan mengumpulkan dana untuk mendukung aneka gerakan kemerdekaan di luar negeri. Jepang berusaha menggagalkannya tetapi para pejuang terus melanjutkan perjuangan dari berbagai basis di luar negeri seperti Manchuria, Siberia, dan Hawaii. Gerakan kemerdekaan pada waktu itu secara umum dapat dibagi menjadi tiga bentuk. Pertama adalah kelompok yang berpikir bahwa Korea dijajah karena Korea lemah sehingga mereka berusaha membentuk berbagai kesatuan pasukan bersenjata dan berjuang mencapai kemerdekaan dengan cara memerangi Jepang. Kelompok lainnya adalah mereka yang percaya bahwa negara kehilangan kedaulatan karena kurangnya pendidikan, sehingga mereka mendirikan sekolah-sekolah dan mengembangkan berbagai bakat untuk mengalahkan Jepang. Dan kelompok terakhir adalah mereka yang berjuang untuk kemerdekaan diplomatik dengan mengutamakan diplomasi terhadap negara-negara adidaya untuk berjuang memengaruhi dan menekan Jepang. Mereka yakin bahwa sekeras apapun usaha Korea akan sulit untuk menundukkan negara penjajah atas kekuatannya sendiri.
Memasuki tahun kesepuluh pemerintahan penjajahan yang kejam, rakyat Korea tanpa pandang kelas sosialnya, telah begitu tertindas sehingga mereka sangat menginginkan kemerdekaan. Lalu sebuah dorongan datang dari luar negeri, yaitu di bulan Januari 1918 di hari-hari terakhir Perang Dunia I, ketika Presiden A.S. Woodrow Wilson mengumandangkan prinsip penentuan nasib sendiri tiap bangsa di dunia. Di bulan Pebruari 1919, sekitar 400 mahasiswa Korea di Jepang menyatakan sebuah deklarasi dan resolusi untuk kemerdekaan Korea. Deklarasi kemerdekaan 8 Pebruari untuk kemerdekaan tersebut bergaung keras ke seluruh penjuru Korea. Dan sebelumnya di akhir bulan Januari, mantan Raja Gojong wafat. Rakyat menduga bahwa kematiannya yang sengaja ditutup-tutupi itu karena diracun, meskipun tidak bisa dibuktikan. Desas-desus kematian itu sedemikian hebat mengguncang dan membuat frustrasi rakyat Korea sehingga terjadilah peristiwa 1 Maret 1919.
Puluhan ribu orang berkumpul di Taman Pagoda di wilayah pusat kota di Jongro. Sorak-sorai massa membahana ketika seorang mahasiswa naik ke podium dan mulai membacakan Deklarasi Kemerdekaan. Isinya: “Kami menyatakan bahwa Korea adalah sebuah negara berdaulat dan bahwa kami bangsa Korea adalah bangsa yang bebas. Kami menyatakan hal ini kepada dunia untuk mewujudkan kesetaraan derajat manusia dan juga untuk masa depan generasi Korea agar mereka secara terus-menerus memelihara pemerintahan mereka sendiri.”
Gerakan kemerdekaan 1 Maret seketika menyebar ke seluruh penjuru negeri. Meskipun pada awalnya dipelopori oleh mahasiswa dan kalangan elite, tetapi kemudian para petani, pekerja dan pedagang mengambil peran utama. Gerakan damai juga berubah menjadi perlawanan bersenjata. Para demonstran dengan senjata seadanya menyerang kantor kepala daerah setempat, markas tentara militer, kantor polisi, perusahaan pengelola tanah dan rumah para tuan tanah yang pro-Jepang, serta membakar berbagai dokumen catatan sensus dan pajak. Sebagai balasan, Jepang menangkapi para tokoh demonstran sampai ke kota-kota kecil dan menumpas perlawanan mereka dengan tembakan dan pembantaian tanpa pandang bulu. Menurut data statistik resmi Jepang, 7.500 orang tewas, 6.000 orang luka-luka dan 46.000 orang ditangkap selama dua bulan rangkaian demonstrasi mulai tanggal 1 Maret. Pihak Jepang menyatakan bahwa 49 gereja dan sekolah serta lebih dari 700 rumah terbakar, namun jumlah korban yang sebenarnya dan kerusakannya pasti jauh lebih banyak lagi.
Gerakan 1 Maret merupakan letusan perasaan rakyat Korea yang terpendam sejak mereka dijajah. Gerakan itu memperkokoh kesadaran rakyat Korea dan lebih daripada itu, menandai sebuah titik balik dalam gerakan kemerdekaan karena melahirkan pemerintahan sementara Korea di Shanghai, yaitu tempat darimana pemerintahan resmi negeri itu dibentuk di kemudian hari. Penindasan Jepang terus berlangsung sampai tanggal 15 Agustus 1945, yaitu ketika kaisar Jepang mengumumkan penyerahan diri tanpa syarat kepada Pasukan Sekutu di akhir Perang Dunia II.

3.      Dampak Perang Dunia II Bagi Korea
Perang Dunia II telah menyebabkan kerugian besar baik bagi negara yang terlibat perang maupun tidak. Kerugian terbesar adalah membuat jutaan rakyat meninggal karena keganasan perang, ekonomipun menjadi berantakan dan mengalami banyak kerugian sehingga kelaparan dan kemiskinan tidak dapat lagi dihindarkan. Perang Dunia yang berlangsung antara tahun 1939 - 1945 menimbulkan akibat yang besar di bidang Politik, Ekonomi, Sosial dan Kerohanian bagi Negara - Negara di Dunia.
Kemenangan pihak sekutu (Inggris, Perancis, Amerika Serikat, dan Uni Soviet) dalam mengakhiri Perang Dunia II tidak terlepas dari peran Amerika Serikat dalam memberikan bantuan (perlengkapan, tentara,dan persenjataan) yang mampu mempercepat berakhirnya perang dengan kemenangan di tangan Sekutu. Perang Dunia II telah menghancurkan hegemoni negara-negara besar seperti Inggris, Perancis, Spanyol, dan Portugis yang sudah berabad-abad memegang kendali kekuasaan di berbagai belahan dunia. Muncul masalah baru yaitu adanya pertentangan kepentingan dan persaingan perebutan hegemoni antara negara anggota sekutu dalam usaha untuk menjadi negara yang paling berpengaruh dan berkuasa di dunia hingga melahirkan dua negara adikuasa (kekuatan raksasa) yaitu Amerika Serikat(kuat secara material) dan Uni Soviet (kuat secara psikologis) yang mengambil alih hegemoni tersebut.
Uni Soviet dan Amerika Serikat saling berlomba menanamkan pengaruhnya pada negra lain dengan berbagai cara sehinga dampaknya negara-negara di dunia terbagi menjadi 2 dimana negara-negara Eropa Timur, Jerman Timur dan beberapa negara Asia seperti Cina, Korea Utara, Kamboja, Laosdan Vietnam berada dibawah pengaruh Uni Soviet yang selanjutnya dikenal dengan Blok Timur. Sementara negara-negara Eropa Barat dan banyak negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin berada dibawah kekuasaan Amerika Serikat yang selanjutnya dikenal dengan Blok Barat.
Akibat yang muncul di bidang Politik setelah Perang Dunia ke 2 berakhir seperti berikut :
  • Amerika Serikat ( U.S.A ) dan Rusia ( Uni Soviet ) sebagai pemenang dalam Perang Dunia ke 2, tumbuh menjadi Negara Raksasa ( Adikuasa ).
  • Terjadinya perebutan pengaruh antara Amerika Serikat ( Blok Barat ) dan UniSoviet ( Blok Timur ) yang menimbulkan Perang Dingin.Jika keduanya berimbang terjadi keseimbangan kekuatan ( Balance of Power Policy ), walaupun perdamaian diliputi ketakutan.
  • Nasionalisme di Asia berkobar dan timbul negara merdeka seperti Indonesia  ( 17 Agustus 1945 ), Filipina ( 4 July 1946 ), India dan Pakistan Dominion ( 15 Agustus 1947 ) dan India merdeka Penuh ( 26 Januari 1950), Burma ( 4 Januari 1948 ) dan Ceylon Dominion ( 4 Februari 1948 ).
  • Munculnya Politik mencari kawan atau aliansi yang di bentuk berdasarkan kepentingan keamanan bersama, misalnya NATO ( North Atlantic Trinity Organization ), SEATO ( South East Asia Treaty Organization ), dan METO.
  • Munculnya Politik memecah belah Negara, misalnya : 
  1. Jerman dibagi menjadi dua Negara yaitu, Jerman Barat ( Di kuasai Amerika Serikat dan Sekutunya ) dan Jerman Timur ( di kuasai oleh Uni Soviet ). 
  2. Korea di bagi menjadi dua Negara, yaitu Korea Selatan dan Korea Utara.
  3. Indo - Cina di bagi menjadi tiga negara yaitu, Laos, Kamboja, dan Indo-Cina 
  4. India di bagi menjadi dua Negara yaitu, India dan Pakistan. 
Jelas sekali bahwa Korea adalah salah satu Negara Korban akibat Perang Dunia II sehingga dampaknya Korea terpecah menjadi Korea Utara yang berhaluan pada Uni Soviet dan Korea Selatan yang berhaluan pada Amerika Serikat.

4.      Problema Politik Korea
Dinamika politik yang dialami Korea, tentu masih terfokus pada penyatuan kembali Korea Utara-Korea Selatan menjadi Korea. Melalui Presiden Kim Dae Jung, Korea Selatan menghadirkan suatu kebijakan yang dikenal sebagai Sunshine Policy dimana dalam susbstansinya tidak lain ialah bertujuan untuk menyatukan kedua negara tersebut yang telah berkonflik sejak era Perang Dingin. Melalui Sunshine Policy tentu menjadi ekspektasi tersendiri agar Korea Utara-Korea Selatan mampu meredam problema-problema yang ada. Implikasi dari pecahnya Korea Utara-Korea Selatan tentu sangat berpengaruh bagi perdamaian dan keamanan kedua negara serta pertumbuhan ekonomi Korea Selatan sendiri. Kebijakan untuk menemukan jalan damai yang dikeluarkan Korea Selatan tersebut didukung oleh beberapa negara, termasuk Amerika Serikat.[4]
Dari segi sejarah politiknya, politik Korea antara lain dicirikan sebagai berikut:
Pertama, politik Korea didasarkan pada tradisi demokrasi yang masih dangkal, ditandai dengan tidak konsistennya pelaksanaan politik berdasarkan konstitusi. Hal tersebut menyebabkan politik Korea menjadi tidak stabil.
Kedua, demokrasi korea merupakan demokrasi ala Barat, bukan demokrasi yang didasarkan pada pemikiran, kebiasaan dan tradisi asli bangsa Korea. Oleh sebab itu Demokrasi Korea dangkal karena demokrasi ala Barat tersebut Belum cukup mengakar dalam kehidupan politik Korea.
Ketiga, demokrasi liberal belum berjalan secara murni karena masih menerapkan praktek-praktek sistem politik Otokratisme.
Keempat, ketakutan terhadap adanya serangan dari luar, khususnya Korea Utara, menyebabkan pemerintah masih menekankan pentingnya masalah keamanan nasional.
Kelima, terdapat kesenjangan antara kesadaran politik yang telah jauh lebih maju dengan capaian-capaian dalam sistem yanga sudah ada yang mengakibatkan Korea mengalami keterbelakangan politik.[5]
Politik Korea selaama ini masih berlangsungdala sistem absolutismedan sisa-sisa sistem kediktatoran sehingga untuk menempatkan demokrasi liberal secara total, kedua hal tersebut harus dihapuskan. Untuk itu, masyarakat dan rakyat Korea harus menghilangkan permasalahan-permasalahan yang ada.
1)      Demokratisasi secepatnya harus ditempatkan di Korea secara luas dan secara total
2)      Budaya politik militer harus dihapuskan karena budaya miiter itu anti demokrasi
3)      Korupsi dengan memanfaatkan jabatan-jabatan politik dan money politics harus dihapuskan
4)      Meluaskan konsensus masyarakat umum terhadap pentingnya dasar politik Korea
5)      Bidang dan pengaruh politik Korea terlalu besar. Oleh karena itu usaha untuk menegakkan atau menciptakan pemerintah yang kecil tetapi kuat harus dilakukan
6)      Untuk memajukan demokrasi dan perekonomian nasional yang baru, praktek-praktek ekonomi dibawah sistem kediktatoran harus dihapuskan
7)      Sistem kediktatoran dalam pembangunan yang selama ini memimpin negara dan rakyat Korea harus dihapuskan
8)      Mengembangkan sistem politik yang harmonis untuk menghapuskan konflik yang diakibatkan oleh perubahan sosial dan perkembangan industralisasi
9)      Secepatnya mengembangkan atau menegakkan ‘negara kesejahteraan’ (welfare-state) demi kepentingan keadilan sosial serta ksejahteraan masyarakat[6]

BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1)        Karena merasa kuat, Jepang berambisi dan termotivasi ingin memperluas kekuasaannya sehingga sampailah pada pertentangan politik dengan Rusia yang kemudian menjadi perang
2)        Proses awal Penjajahan Jepang di Korea mulai berlangsung pada masa akhir kerajaan Chosun telah menghancurkan kerajaan dan rakyat Korea. Akibat posisi geografis Semenanjung Korea yang strategis, Jepang ingin menjadikan Semenanjung Korea  sebagai bagian wilayah Jepang, Korea menjadi sebagian wilayah Kekaisaran Jepang mulai tahun 1910 hingga tahun 1945.
3)      Perang Dunia II yang berlangsung antara tahun 1939 - 1945 menimbulkan akibat yang besar di bidang Politik, Ekonomi, Sosial dan Kerohanian bagi Negara-negara di Dunia. Dampak dari Perang Dunia II tersebut bagi Korea adalah terpecahnya Korea menjadi Korea Utara dan Korea Selatan.
4)        Dalam perjalanannya, Korea memiliki masalah atau problema politik yang kritis tetapi berhasil diatasi dengan kerja keras hingga akhirnya Korea menjadi negara yang maju. 

B.     Saran
1)         Dari perjalanannya yang panjang, sejarah Korea telah menampakkan sebuah fenomena yang sangat mengagumkan dan memesona di bidang budaya, politik, ilmu pengetahuan, maupun kontak sosial. Maka tidaklah salah jika kita mau melihat kembali sejarahnya pada masa lampau untuk mencontoh dan mengaplikasikan hal-hal berharga yang bisa kita petik.
2)         Dengan melihat mata rantai histori kita dapat membandingkannya dengan aspek kekinian. Tentunya dapat belajar dan mengambil hikmah dan peristiwa sejarah untuk masa depan yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Agung Leo S. 2002. Sejarah Asia Timur 2 Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Seung-Yoon Yang & Mohtar Mas’oed. 2003. Masyarakat, Politik Dan Pemerintahan Korea: Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Gadjah Mada University Prees.
http://isfanl.blogspot.com/2012/02/perang-dunia-II-dan-pengaruhnya-terhadap korea .html diakses pada Selasa 26 Februari 13
http://mustaqimzone.wordpress.com/2010/02/08/perang dingin serta pengaruhnya bagi dunia diakses pada Selasa 26 Februari 13


[1]Agung Leo S, Sejarah Asia Timur 2 (Yogyakarta: Penerbit Ombak,2012), hlm. 106.
[2] Yang seung-yoon & Mohtar Mas’oed Masyarakat, Politik dan Pemerintahan Korea: sebuah pengantar (Yogyakarta; GADJAH MADA UNIVERSIYY PREES, 2003), hlm.20
[3] Mengubah Korea menjadi seperti Jepang baik budaya, adat istiadat maupun bahasa
[5](Yang seung-yoon & Mohtar Mas’oed) Op. Cit hlm. 8-9
[6] (Yang seung-yoon & Mohtar Mas’oed) ibid. hlm. 15

1 komentar :